Belajar Menjadi Akar

December 12, 2012 at 12:59 pm (renungan, tausiyah, word) (, , )

Menjadi Akar

Betapa sulit menjadi sebuah akar, menjadi penopang kokohnya pohon. Akar yang 
menjadikan pohon tegak dan hidup. 

Dalam kesunyiannya terus bekerja mencari air agar sang pohon tumbuh berkembang. 

Dalam kegelapan terus memanjangkan dirinya agar makin luas wilayah serapan 
untuk mencari makan. 

Dalam kesunyiaannya akan terus menembus tanah dan bebatuan, agar sang pohon 
tetap bisa bertahan walau musim kering melanda, agar sang pohon tetap bisa 
menghasilkan buah,, bunga yang mengagumkan bagi manusia yang melihatnya. 

Akar tidak pernah mengeluh lantaran merasa cape berpuluh-puluh meter mengais 
saripati tanah, lantas kesal dan “mogok kerja”. Apalagi minta “pensiun”. Biarlah 
tersembunyi di dalam tanah asalkan bisa memberikan yang terbaik bagi yang ada di 
permukaan tanah. Itulah prinsip akar. 

Betapa sulitnya menjadi akar karrna dia harus siap bekerja keras dalam diam, 
gelap dan sunyi. jauh dari hiruk pikuk perhatian manusia tentang posisi dirinya. 

Beratnya menjadi akar,, karna rata-rata kita lebih siap menjadi buah,, bunga,,
daun,, dahan,, dan sebagainya… tapi bukan akar… 

Dikutip dari Majalah Tarbawi Edisi 29 Thn 3

***

Tausiyah ini diposting lewat milist oleh salah satu teman kerja,, setelah amanah kepanitiaan satu acara milad kantor selesai.

Tersirat  jelas,, tausiyah menyinggung perihal kinerja mereka yang dipertanyakan karena hanya sebatas untuk mendapatkan penilaian dimata manusia lainnya,, diibaratkan seperti dahan, daun, dan buah pada satu pohon.

Tanpa disadari dahan, daun, dan buah dipermukaan.. terdapat sosok-sosok akar yang bekerja keras tanpa pamrih..namun terabaikan jauh dari penglihatan mata-mata manusia aka. bos besar. 

Walau terabaikan,, InsyaAllah amalan akar tercatat baik dihadapan Allah dan balasan akhirat lebih kekal..so,, keep spirit ya guys.. 😀 

 

 

 

Permalink 3 Comments

Tausiyah: Kalimat Pengusir Maksiat

April 11, 2009 at 4:47 pm (Books, tausiyah) ()

Seorang ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya, “Ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku menirukan gerakkannya.

Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’

Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’

Beliau menjawab, ‘Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu,

“Allahu ma’i…Allahu naadhiri…Allahu syaahidi!” (Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)

Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.

Pamanku berkata, “Mulai sekarang, ucapkan zikir itu sepuluh kali setiap malam.”

Aku melakukannya, aku resapi maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa tenang, aku senantiasa bersama Allah swt

Satu tahun setelah itu, paman berkata, “Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat.

Lalu, pamanku berkata, ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’

***

Begitulah mengapa kalimat “Allahu ma’i…Allahu naadhiri…Allahu syaahidi!” begitu terkenal dikalangan ulama arif billah. Karena kalimat ini mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan oleh Allah swt, di mana dan kapan saja)

Pada akhirnya rasa ini akan membawa kita pada rasa taqwa yang tinggi kepada Allah swt, dan rasa takut untuk berbuat maksiat…

-Dikutip dari buku “Ketika Cinta Berbuah Surga” karangan Habiburahman El Shirazy-

Permalink 9 Comments